Jangan Mendaki Gunung Saat Musim Hujan, 6 Alasannya

Jangan Mendaki Gunung Saat Musim Hujan, 6 Alasannya

Saat ini pendakian gunung memang tengah menjadi tren, terutama di kalangan anak muda. Hampir setiap akhir pekan, basecamp pendakian selalu dipadati oleh banyak orang.

Meski demikian, perlu diketahui bahwa ada saat-saat tertentu di mana kegiatan pendakian sebaiknya tidak dilakukan terlebih dahulu. Salah satunya ketika puncak musim hujan yang diprediksi berlangsung sekitar Januari sampai April.

Beberapa pengelola pendakian di beberapa gunung juga menutup aktivitas pendakian ketika musim hujan tiba. Selain demi keselamatan pendaki, penutupan juga dilakukan untuk pemulihan ekosistem.

Memang akan lebih baik jika tidak melakukan pendakian terlebih dahulu ketika musim hujan tiba. Berikut ini adalah 5 alasannya:

1. Jalur Pendakian Semakin Sulit
Musim hujan identik dengan cuaca buruk. Hujan yang turun akan membuat jalur pendakian menjadi licin sehingga rawan membuat tergelincir. Lebih parahnya lagi jika hujan lebat turun, maka jalur pendakian seolah berubah menjadi sungai.

Tentu melintasi jalan setapak seperti itu tak hanya semakin menyusahkan, tetapi juga membahayakan. Tidak jarang kecelakaan fatal terjadi akibat terpeleset ketika melangkah di jalur yang licin karena hujan.

2. Risiko Tersambar Petir Semakin Tinggi
Hujan tidak hanya identik dengan air saja. Ketika akan turun hujan lebat atau badai, kemungkinan besar petir akan turut menyertainya. Kemungkinan terjadinya badai dan petir pun jauh lebih tinggi di musim hujan.

Berada di ketinggian ketika badai tentu membahayakan karena rawan sambaran petir, terlebih jika lereng gunung tidak ada pohon tinggi. Tempat yang luas dan datar juga menjadi lokasi rawan sambaran petir.

Akhirnya bisa disimpulkan bahwa gunung merupakan tempat yang berbahaya ketika badai disertai petir melanda. Tersambar petir pun begitu fatal karena dapat menyebabkan kematian.

3. Beban Bawaan yang Semakin Berat
Mendaki di musim hujan tentu membutuhkan bawaan yang lebih banyak dibanding ketika musim kemarau. Salah satu contoh bertambahnya barang bawaan adalah baju ganti yang lebih banyak dibawa jika pakaian basah karena hujan.

Selain itu, jas hujan yang memadai juga menjadi perlengkapan wajib ketika mendaki di musim hujan. Tentu jas hujan itu juga akan semakin menambah berat beban barang bawaan di dalam tas.

4. Panorama di Puncak Kemungkinan Besar Terhalang Kabut
Panorama yang indah ke segala arah menjadi satu hal yang dinanti oleh para pendaki begitu berhasil mencapai puncak. Tentu pemandangan seperti itu akan terlihat saat cuaca cerah.

Namun di musim hujan, kabut biasanya ikut menyelimuti seluruh bagian gunung sehingga pemandangan indah pun menjadi tidak tampak.

Datangnya kabut juga bisa berbahaya karena menghalangi jarak pandang. Hal ini jelas rawan menyebabkan tersesat sehingga membahayakan pendaki.

5. Meningkatkan Risiko Hipotermia karena Air Hujan
Hampir dipastikan pakaian akan basah ketika mendaki di saat hujan. Meski sudah mengenakan jas hujan, air masih bisa masuk ke celah atau lubang kecil sehingga tetap bisa membasahi baju atau celana.

Tidak jarang air hujan juga bisa membasahi perlengkapan lain seperti kantung tidur atau jaket, padahal dua benda itu penting untuk menjaga agar tubuh tetap hangat. Jika sampai demikian, maka risiko terkena hipotermia akan meningkat.

6. Alam Perlu Istirahat dari Kehadiran Manusia
Memang benar jika pendakian gunung salah satu perwujudan mencintai alam, asal tidak melakukan hal lain yang malah merusak kelestariannya seperti membuang sampah sembarangan.

Namun mencintai alam juga bisa dilakukan dengan cara berhenti mendaki untuk sementara dan membiarkan gunung beristirahat dari manusia. Perlu diketahui, flora dan fauna di gunung perlu steril dari manusia agar tetap terjaga ekosistemnya.

Saat ini selain karena faktor cuaca, beberapa gunung seperti Slamet dan Prau juga menutup aktivitas pendakian untuk pemulihan ekosistem.

0 komentar:

Posting Komentar